Jika saja keinginan ini tidak
terbentur sebuah batas yang hampir tak dapat dilewati, mungkin sudah ku ajak
kamu terbang dengan sayap yang koyak ini. Membawa mu ke berbagai tempat indah
yang ingin kau tuju dan juga ingin ku tuju. Hanya saja masih belum cukup
keberanian untuk mengucapkan satu kalimat saja “Maukah kamu bersama ku?”.
Hari itu, adalah hari yang paling
spesial diantara semua hari yang pernah ku jalani. Deretan pohon pinus yang
berkolaborasi dengan pegunungan dan hamparan sawah yang bak permadani hijau,
menciptakan nuasa yang begitu indah, udara tidak begitu dingin namun tetap
terasa sejuk membuatku ingin berlama-lama di tempat itu. Tapi bukan tempatnya yang membuat hari itu
menjadi spesial, melainkan keberadaan dirimu disampingku yang dengan sabar
mendengarkan celotehan-celotehan yang keluar dari mulutku. Naif jika harus
bilang baru kali ini aku sedekat ini dengan seorang wanita, tapi semua itu
hanyalah masa lalu dari waktu yang sudah lama sekali berlalu. Dan entah kenapa waktu
itu setiap kali memandang wajahmu hati ini mulai bergetar dan pada puncaknya ingin
sekali ku berteriak sekencang-kencangnya “Eureka”, namun rasa malu mengurungkan
niat itu. Satu hal yang pasti, aku merasa menemukan ratna mutu manikam yang selama ini kucari.
Mungkin kamu merasa setiap apa yang ku ucapkan waktu
itu hanyalah bualan. Ya, tak ku pungkiri sebagiannya memang hanya bualan
sekedar untuk memecah kesunyian dan sebagian lagi adalah benar, setidaknya itu
yang kurasakan. Kamu mungkin mengira kata cantik yang keluar dari mulut ini
sekedar rayuan atau gombalan belaka, sekali lagi aku mengiyakan bahwa itu memang
gombalan, menurut ku apa salahnya gombal karena nyatanya kamu memang cantik. Dan
yang ku ingin kamu tahu, aku serius ketika mengucapkan bahwa aku akan datang menemui
orang tuamu.
Beberapa kali hari telah berganti dari waktu itu,
aku terus merenungi semua kata-kata yang telah aku ucapkan kepada mu. Banyak yang
aku andaikan, sering kali membuat ku jadi senyum-senyum sendiri dan terkadang
malah membuat ku jadi depresi. Beberapa hari kebelakang aku merasa seolah awan
hitam selalu mengikuti kemana pun ku pergi, entah pertanda apa yang akan
terjadi dan membuatku selalu berpikiran buruk.
Seperti yang ku bilang di awal, aku sadar ada batas yang menghalangi tapi itu tidak akan
menyurutkan langkahku untuk dapat melompatinya. Hanya saja apakah kamu
mengizinkan aku untuk melompati batasan itu. Selama ini aku selalu memikirkan
semua itu dari sudut pandangku saja, tanpa tahu apa yang kamu rasakan.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon