Ratna Mutu Manikam

Jika saja keinginan ini tidak terbentur sebuah batas yang hampir tak dapat dilewati, mungkin sudah ku ajak kamu terbang dengan sayap yang koyak ini. Membawa mu ke berbagai tempat indah yang ingin kau tuju dan juga ingin ku tuju. Hanya saja masih belum cukup keberanian untuk mengucapkan satu kalimat saja “Maukah kamu bersama ku?”.

Hari itu, adalah hari yang paling spesial diantara semua hari yang pernah ku jalani. Deretan pohon pinus yang berkolaborasi dengan pegunungan dan hamparan sawah yang bak permadani hijau, menciptakan nuasa yang begitu indah, udara tidak begitu dingin namun tetap terasa sejuk membuatku ingin berlama-lama di tempat itu. Tapi bukan tempatnya yang membuat hari itu menjadi spesial, melainkan keberadaan dirimu disampingku yang dengan sabar mendengarkan celotehan-celotehan yang keluar dari mulutku. Naif jika harus bilang baru kali ini aku sedekat ini dengan seorang wanita, tapi semua itu hanyalah masa lalu dari waktu yang sudah lama sekali berlalu. Dan entah kenapa waktu itu setiap kali memandang wajahmu hati ini mulai bergetar dan pada puncaknya ingin sekali ku berteriak sekencang-kencangnya “Eureka”, namun rasa malu mengurungkan niat itu. Satu hal yang pasti, aku merasa menemukan ratna mutu manikam yang selama ini kucari.

Mungkin kamu merasa setiap apa yang ku ucapkan waktu itu hanyalah bualan. Ya, tak ku pungkiri sebagiannya memang hanya bualan sekedar untuk memecah kesunyian dan sebagian lagi adalah benar, setidaknya itu yang kurasakan. Kamu mungkin mengira kata cantik yang keluar dari mulut ini sekedar rayuan atau gombalan belaka, sekali lagi aku mengiyakan bahwa itu memang gombalan, menurut ku apa salahnya gombal karena nyatanya kamu memang cantik. Dan yang ku ingin kamu tahu, aku serius ketika mengucapkan bahwa aku akan datang menemui orang tuamu.

Beberapa kali hari telah berganti dari waktu itu, aku terus merenungi semua kata-kata yang telah aku ucapkan kepada mu. Banyak yang aku andaikan, sering kali membuat ku jadi senyum-senyum sendiri dan terkadang malah membuat ku jadi depresi. Beberapa hari kebelakang aku merasa seolah awan hitam selalu mengikuti kemana pun ku pergi, entah pertanda apa yang akan terjadi dan membuatku selalu berpikiran buruk.

Seperti yang ku bilang di awal, aku sadar ada  batas yang menghalangi tapi itu tidak akan menyurutkan langkahku untuk dapat melompatinya. Hanya saja apakah kamu mengizinkan aku untuk melompati batasan itu. Selama ini aku selalu memikirkan semua itu dari sudut pandangku saja, tanpa tahu apa yang kamu rasakan.




Previous
Next Post »

ConversionConversion EmoticonEmoticon

:)
:(
=(
^_^
:D
=D
=)D
|o|
@@,
;)
:-bd
:-d
:p
:ng